Posts

Showing posts from January, 2026

Seni Musik Gayageum

Image
Gayageum (가야금) Gayageum adalah alat musik petik tradisional penting yang dimiliki oleh Korea dan alat ini diciptakan oleh seorang raja dari kerajaan Gaya pada 1500 tahun lalu. Alat musik ini dibuat dari sebelah batang pohon Paulowni, dengan panjang 150 cm dan lebar 30 cm dan dipasang 12 dawai dari benang di bagian atasnya. Setiap dawai disangga dengan potongan kayu yang disebut 'anjok' berbentuk kaki angsa liar. Seorang pemain memainkan Gayageum ini dengan duduk di lantai, lalu menaruh Gayageum di atas luntutnya. Biasanya, alat musik ini dibunyikan dengan kedua tangan secara serentak, tangan kanan memetik dan menyentil senarnya sedangkan tangan kiri menekan, menarik dan menggetarkannya untuk mengekspresikan berbagai bunyi. Alat musik petik ini disebut juga dengan beberapa nama lain sesuai dengan bahan dan jumlah senarnya. Dewasa ini, Gayageum dengan 25 bentangan senar sangat terkenal dan sering dimainkan.

Seni Musik Samulnori

Image
  Samulnori ( 사무노리 )  Samulnori is a genre of traditional music performed with four percussion instruments referred to as “pungmul풍물” – a small gong called kkwanggwari꽹과리, a drum, a larger gong called jing징, and a double-ended drum called janggu장구.  This folk music is well-known around the world as traditional music that originated in Korea. But it is not as traditional as is conventionally believed. Indeed, the history of samulnori is rather short. It was first introduced to the public just about four decades ago, in 1978.  Young students of namsadang남사당, or a traveling music troupe, began to learn how to play pungmul pieces and adapted them into songs suitable for stage performances.  Pungmul instruments used to be played by several musicians in large spaces, so it was initially perplexing to see just four percussionists playing together on a small stage. It was not unlike compressing an epic novel into a short poem. 

Seni Musik Pansori

Image
  Pansori (판소리) Pansori adalah nyanyian naratif, bukan hanya lagu dan diciptakan oleh orang-orang biasa. Pansori berdiri atas tiga bagian, yaitu 'Aniri' yang memberikan penjelasan tentang adegan-adegan, 'Neoreumsae' yang menggambarkan perbuatan tokoh-tokoh, dan 'Chuimsae' yang dikatakan oleh penonton untuk mengungkapkan perasaannya. Seorang penyanyi naratif menceritakan sebuah kisah dalam bentuk Sori, Aniri, dan Neoreumsae sesuai dengan matra dari instrumen perkusi, Buk yang dimainkan seorang Gosu. Sementyara penonton-penonton ikut bergabung dengan penyanyi naratif dengan berkata 'Chuimsae' tersebut seperti 'geureotchi' yang berarti 'itu benar', 'Jalhanda' yang berarti 'bagus', dan 'Jota' yang berarti 'baik'. Penyanyi naratif sanggup bernyanyi sebisa mungkin jika ditimpali dengan Chuimsae pada saat tepat dan matra dari Buk disesuaikan. Pansori adalah genre musik favorit masyarakat pada zaman dahulu. Hingga ...

Seni Musik Jeongak

Image
Jeongak : Musik tradisional Korea Selatan.   Jeongak (정악) adalah salah satu jenis musik tradisional Korea. Secara bahasa arti jeongak adalah “right music”. Jenis musik ini adalah perpaduan musik tradisional asli korea dengan musik dari Cina. Jenis musik jeongak (정악) dimainkan untuk keluarga kerajaan dan kaum bangsawan atau yangban (양반). Jenis musik jeongak ini bisa juga disebut sebagai musik klasik tradisional Korea (Korean Traditional Classical Music). Musik jeongak ini berirama lembut, hangat, pelan dan khidmat. Begitu pelannya tempo jenis musik ini, satu ketukan musik ini bisa membutuhkan waktu sampai tiga detik.

Haegeum :Seni musik tradisional

Image
 Haegeum : alat musik tradisional Korea Selatan. haegŭm , two-stringed vertical  fiddle  used in many traditional Korean musical  genres . A hardwood bow strung with horsehair is passed between the strings to create the sound. The soundbox is made of paulownia wood and is open at the back. The two twisted-silk strings, tuned a fifth apart (as c-g), are attached at the bottom of the soundbox; they pass over a small wooden bridge and up the long bamboo neck to large pegs. In performance the musician sits cross-legged, holding the instrument vertically on the left knee. The left hand controls pitch and vibrato by pulling the strings toward the neck; there is no fingerboard. With the right hand the performer moves the bow horizontally between the strings while controlling the  tension  of the horsehair.

Gugak: Musik dan Tarian Tradisional Korsel

Image
Mengenal Gugak: Musik dan Tarian Tradisional Korsel Melansir dari laman Korea Net, nama "gugak" / 구각 pertama kali digunakan untuk mengidentifikasi musik khas Korea ketika musik asing mulai memengaruhi Korea pada akhir Dinasti Joseon. Musik ini memiliki akar sejajar dengan sejarah Korea itu sendiri, tetapi bentuknya yang lebih khas mulai terbentuk pada abad ke-15 saat Raja Sejong memperkenalkan inovasi penting. Raja Sejong juga menyusun notasi musik jeongganbo dan menciptakan alat musik khusus. Ia juga menciptakan komposisi musik penting seperti Jongmyo Jeryeak yang saat ini menjadi Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan UNESCO sejak tahun 2001. Selain itu sang raja juga turut menciptakan Yeomillak. Yeomillak berarti "bergembira bersama rakyat". Unsur Kesenian Gugak Gugak mencakup berbagai jenis musik yang dipentaskan di Korea, termasuk: 1. Jeongak dan Jeongga. Ini adalah musik istana yang biasanya dinikmati oleh kalangan terpelajar pada masa Dinasti Joseon. 2. Pansori...

Seni Rupa pada Zaman Goguryeo

Image
 Peninggalan-peninggalan yang menunjukkan bahwa asal-usul seni rupa Korea mulai mengacu pada Zaman Neolitikum (kira-kira 6.000 sampai 1.000 SM). Ssangyeongchong (Makam Dua Lajur), lukisan pada langit-langit dari Kerajaan Goguryeo Mahkota emas dari Kerajaan Silla Nilai artistik Kerajaan Goryeo (918 –- 1392) dapat dilihat dari barang-barang seladon. Warna hijau seperti pada batu permata jade, desain yang elegan, dan berbagai macam seladon Goryeo merupakan keindahan yang sangat tinggi dan berbeda dari keramik- keramik buatan Cina. Sampai paruh pertama abad ke-12, seladon Goryeo dikenal karena warnanya yang bersih, sedangkan pada paruh kedua abad tersebut teknik menoreh disain pada tanah liat dan mengisi ceruk-ceruknya dengan tanah liat lunak warna putih atau hitam menjadi ciri utamanya. Meski manusia mulai mendiami Semenanjung Korea pada Zaman Paleolitikum, peninggalan-peninggalan yang ada menunjukkan bahwa asal-usul seni rupa Korea mulai mengacu pada Zaman Neolitikum (kira-kira 6.000...

Potret Lukisan Kerajaan pada Akhir Periode Joseon

Image
  Collapse of the Tradition: Royal Portraits under King Seonjo (宣祖, r. 1567-1608) The characteristics of Joseon royal portraiture are exemplified by  Portrait of King Taejo  (太祖, r. 1392-1398) ( Fig. 1 ), which is the only extant royal portrait that was actually produced during the Joseon Dynasty. Enshrined in the Gyeonggijeon (慶基殿) Hall in Jeonju, the full-length portrait shows a middle-aged King Taejo, seated on a sumptuous royal throne, wearing a winged cap ( ikseongwan , 翼善冠) and blue royal attire ( gollyongpo , 袞龍袍). Although the painting is a reproduction made in 1872, it still reflects the style of portraiture from the early Joseon period. King Taejo’s portraits were enshrined in royal portrait halls ( jinjeon , 眞殿) that were scattered throughout the kingdom. Royal portraits enjoyed tremendous prominence during the Joseon period, and a great number of archives regarding the painting of royal portraits survive to the present day. As mentioned, however, the portrait ...

Seni Renaisans Korea, 1400–1600

Image
  Art of the Korean Renaissance, 1400–1600 The fifteenth and sixteenth centuries witnessed the revival and reinterpretation of classical traditions alongside significant achievements in innovative art forms. The establishment of the  Joseon  (“Fresh Dawn”) dynasty in 1392, following a revolutionary yet bloodless coup, purged the corrupt practices of the  Goryeo  regime, ended Mongol domination, and fueled an extraordinary cultural renaissance. The new political vision of the state promoted Neo-Confucianism in both theoretical explorations and practical implementation in nearly every aspect of society.  Buddhism , the state-sanctioned religion for more than a thousand years, was officially rejected, though private worship and artistic production continued. The Neo-Confucian royal court and  elite literati  ( yangban ), the primary patrons of the arts, embraced and encouraged the advancement of secular art and culture. The fifteenth and sixteenth ce...

Korean art and culture

Image
  Explore one of the nation’s earliest and most historically significant museum collections of Korean art and culture. Artist in Korea, Jojokdeung (foot illuminating lantern), before 1885. Paper, wood, and metal. Gift of Percival Lowell, 1885. E1463. Peabody Essex Museum. Photo by Jeffrey R. Dykes/PEM. Artist in Korea, Sewing dish (detail), 1800s. Paper, lacquer, and mother-of-pearl. Museum purchase, made possible by an anonymous donor, 1998. E300229. Peabody Essex Museum. Photo by Dennis Helmar. From the late Joseon dynasty (1392–1910) to today, PEM’s exceptional collection explores art, culture, and life in Korea during a time of significant transition and global connection. PEM’s early Korean collection was primarily formed by Edward Sylvester Morse, director of the Peabody Academy of Science (a predecessor organization to PEM), who proactively pursued Korean acquisitions during his tenure from 1880 to 1914. Among his most significant acquisitions from this period is a set of ei...